Cerita

Born To Protect: Digicamp Selama 2 Minggu

Dari tanggal 25 September 2018 sampai 6 Oktober 2018 kemarin saya mengikuti kegiatan yang namanya Digicamp atau Digital Bootcamp. Kegiatan ini merupakan kegiatan terakhir dari rangkaian acara yang bernama Born To Protect yang dimulai pada tahun 2017. Apa saja yang menarik dari kegiatan ini? silahkan baca artikel ini sampai selesai yaaĀ šŸ˜

Born To Protect dan Cara Mengikuti Digicamp

Sebagian teman-teman penggiat teknologi kemungkinan sudah tahu tentang Born To Protect karena cukup ramai juga sih acara ini. Bagi yang belum tahu jadi Born To Protect adalah program penyaringan talenta yang diselenggarakan oleh Xynexis dan bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika, RSA, Aptikom, EC-Council, dan Universitas Gunadarma.

Di atas saya sudah beritahu bahwa Digicamp ini adalah rangkaian terakhir dari acara Born To Protect, berarti ada kegiatan pertamanya donk. Kegiatan pertama yang saya ikuti adalah audisi, seharusnya saya audisi di Jakarta namun karena tidak memungkinkan akhirnya saya mengikuti kompetisi yangĀ online. Dari audisiĀ online dan audisi yang diselenggarakan di 10 kota keluarlah 1.000 nama yang mengikuti audisi ke-2. Bagi 1.000 peserta yang lolos diberikan hadiah berupa sertifikasi internasional gratis dari EC-Council yaitu Certified Secure Computer User.

Pada audisi ke-2, 1.000 peserta tersebut disuruh untuk melakukanĀ Capture The Flag, yaitu kompetisi untuk mendapatkanĀ flag dengan berbagai cara yang berhubungan dengan keamanan siber. Audisi ini berlangsung selama 1×24 jam dan saya telah membuat cerita sendiri pada artikel yang berjudul Pertama Kali Ikut Capture The Flag.Ā Dari audisi tersebut 100 nama dengan poin tertinggi berhak untuk mengikuti kegiatan final yaitu Digicamp.

Hal yang Didapat

Tentu saya tidak mau mengikuti sebuah kegiatan kalau tidak menarik dan bisa mendapatkan sesuatu. Hal yang bisa saya dapatkan di acara ini adalah pengetahuan yang membuka fikiran saya tentang dunia keamanan siber. Instruktur pada pelatihan ini adalah Belly Rachdianto dan Aan Wahyu yang secara praktikal saya jelas kalah jauh sama mereka. Kenapa? Karena kalau saya lebih pintar tentu saya yang jadi instrukturĀ šŸ¤­.

Selain mendapatkan pelatihan tentang keamanan siber 100 peserta juga mendapatkan fasilitas sertifikasi internasional gratis dari EC-Council yaitu Certified Network Defender. Saya sempat gugup sebenarnya karena gak tau apa-apa tentang hal kaya gini tetapi untungnya lulus dengan nilai yang tidak memalukan. Dari 100 peserta yang mengikuti kegiatan ini syukurlah kami semua lulus sertifikasi.

Di tengah-tengah kegiatan tepatnya hari Sabtu 29 September 2018 para peserta diberikan tantangan untuk menemukan celah keamanan pada sistem yang telah dibuat oleh panitia. Kebetulan tim saya menjadi 2 tim yang menang tantangan ini dan saya dapat hadiah pulsa yang tidak terlalu besar yaitu Rp 400.000,-

Diselenggarakan di Pusat TIK Nasional selain mendapatkan ilmu dan sertifikasi saya juga mendapatkan berkat jasmani fasilitas makan gratis selama 2 minggu yang menghemat pengeluaran saya sebagai anak kostĀ šŸ˜„. Selama mengikut Bootcamp ini peserta diberikan makan 3x sehari dan dapat 2x makanan ringan yang diganti-ganti jadi makanannya tidak membuat bosan. Fasilitas lain yang didapatkan peserta adalah tempat istirahat dan juga transportasi gratisĀ šŸ˜˜.


Secara garis besar saya cukup puas dan bersyukur bisa mengikuti acara ini mengingat ini pengalaman pertama saya mengikuti kegiatan dengan topik keamanan siber. Saya berharap acara seperti ini bisa dilanjutkan terus tiap tahun dan kalau bisa sertifikasinya ditingkatkan menjadi Certified Ethnical HackerĀ šŸ˜„.

Close
Close